Monday, 22 September 2014
 
 

:: Menu Utama ::

Home
Editorial
Berita
Kajian Kitab Kuning
Direktori Pesantren
Wacana
Wawancara
Tokoh Pesantren
Beasiswa Pesantren
Gallery
Redaksi
Links
Download

:: Editorial ::

Merayakan Kemerdekaan

Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi.

Read more...
 

:: Tokoh Pesantren ::

Kyai Falak Era
Millennium


Image
KH. Dr. Ahmad Izzudin, M.Ag

Banyak tokoh muslim kita yang sukses lahir dari didikan orang tua yang keras.  Begitu pula dengan tokoh satu ini, Kyai kelahiran Kudus dengan segudang pengabdian untuk umat dan majunya Ilmu Falak. Kepribadian dan perjuangan beliau dalam membumikan ilmu yang sangat langka, yaitu Ilmu Falak mendapat perhatian manakala kita mengamati perjalanan hidupnya. Dengan berbagai kisah, pengalaman, dan cerita yang masih saya ingat, sebagai muridnya selama di Semarang sampai dengan sekarang, pandangan saya terhadap beliau masih tetap sama, sebagai tokoh umat.

Read more...
 
 
Pesantren Memiliki Peran dalam Gerakan Islam Indonesia
Senin, 15 September 2008
Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) - “Dulu kami mendirikan LP3ES yang merupakan kumpulan ahli-ahli sosial-ekonomi kelompok priyayi yang mempunyai concern keumatan. Salah satu tujuannya adalah membuka wawasan masyarakat, membuka cakrawala pesantren. LP3ES boleh dikatakan, lembaga yang pertama kali mengkaji dan menyiarkan pesantren pada khalayak luas baik dalam maupun luar negeri”, kenang KH. Abdullah Syarwani, SH saat menyampaikan orasi pada workshop Pengembangan Organisasi Santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (14/07/08).

Dalam Kegiatan yang bertemakan “Melalui Workshop Pengembangan Organisasi Santri Kita Ciptakan Organisasi Santri yang Profesional, Modern dan Berdedikasi Tinggi” Beliau juga memberikan apresiasi yang tinggi terhadap langkah Departemen Agama memberdayakan dan mengembangkan pondok pesantren, dengan pengembangan SDM santri melalui program beasiswa santri, life skill, dan perluasan akses pendidikan.

Dalam materi “Dinamika dan Gerakan Umat Islam”, Gerakan Islam di Indonesia, menurut Mantan Duta Besar dan Berkuasa Penuh RI untuk Libanon, dipengaruhi oleh dinamika gerakan sosial politik Indonesia. “Ada kelompok yang iri, gamang dan was-was terhadap gerakan Islam”. Maka membutuhkan kesadaran kolektif dan tindakan yang strategis dalam mengembangkan umat Islam.

Salah satunya adalah membangun kesadaran sejati melalui organisasi yang mantap dengan daya tahan menghadapi sesuatu yang datang dari luar. Apa yang datang dari luar (Barat), yang baik diterima yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia ditolak.

Data Human Developmen Indeks (HDI), Indonesia berada dalam ranking peringkat 112 sementara Libanon lebih unggul pada rangking 70 yang ukurannya adalah pendidikan, politik dan kesehatan. Ada beberapa cara hidup masyarakat Libanon yang patut kita contoh, misalkan masyarakat Libanon menarik dan gagah, menjunjung tinggi kejujuran, semangat kerja keras, masjid dan gereja saling berlomba dalam kebaikan, kebersihan menjadi kebiasaan dan pengembangan umat yang didasarkan pada data base.

Internasionalisasi Islam awal abad 20 telah melahirkan modernisasi Islam. Akhir abad 20 muncul reinternasionalisasi gerakan Islam. Pesantren mempunyai peran yang sangat besar bagi gerakan Islam Indonesia. Pesantren tetap eksis di tengah gencarnya ideologi-ideologi nusantara. Maka perlu fondasi yang kokoh agar bangunan ideologi pesantren kuat dan mempertahankan kultur dan tradisi pesantren.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mengembangan gerakan masyarakat Islam: Pertama, mengembangkan masyarakat demokratis dengan ciri menghargai nilai-nilai universal, pluralistik dan keadilan sosial. Oleh karena itu kebangkitan moral umat menjadi penting seperti kejujuran, kedisiplinan, keberpihakan kepada yang lemah (mustadhafin), dan semangat pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kedua, menata etika politik dalam bermasyarakat dan berbangsa. Ketiga, membangun jaringan kerjasama (net working) antar pesantren dan pihak luar dalam rangka meningkatkan kualitas sosial ekonomi umat. Misalnya, NU dimulai dari gerakan Nahdlatut Tujjar, untuk menjadikan masyarakat sejahtera; Keempat, menciptakan tradisi membaca dan menulis di pesantren. Tradisi kita yang paling menonjol adalah budaya dengar. Iqra, membaca juga mengandung makna research (penelitian), semestinya harus dikembangkan guna mendukung perjuangan.

Kelima, caracteristic building. Kita sering mengalami shock culture? Karena kita miskin bathin, sementara budaya “dilayani” sangat dominan. Perlu tekad untuk ”pesantren maju”. Sementara potensi lokal content pesantren amat kaya, seperti: pemikiran, kerukunan, kebersamaan. Ini merupakan modal yang sangat berharga dalam mengembangkan gerakan-gerakan Islam.

Keenam, mengoptimalkan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat. ”anda adalah coor leader sebagai katalisator antara pesantren dengan masyarakat. Antara yang diperlukan (need) dengan keinginan (want). Komunitas pesantren juga harus "think globally act locally”, kata Syarwani dengan semangat. (rbs)

 
 
 
© 2007 :: TI UIN Jakarta ::