:: Menu Utama ::

Home
Editorial
Berita
Kajian Kitab Kuning
Direktori Pesantren
Wacana
Wawancara
Tokoh Pesantren
Beasiswa Pesantren
Gallery
Redaksi
Links
Download

:: Editorial ::

Merayakan Kemerdekaan

Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi.

Read more...
 

:: Tokoh Pesantren ::

"Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran"

Image
K.H. Abdul Rozaq Shofawi

 Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.
 
Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.

Read more...
 
Dialektika Hisab Rukyah PDF Print
Sabtu, 21 Juli 2012
Oleh ; Maryani Abdul Muiz *

ImagePersoalan penentuan awal bulan di Indonesia, khususnya dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah, selalu menjadi tranding topic. Uniknya, persoalan seperti ini hanya terjadi di negara dengan system demokrasi seperti Indonesia. Dimana hak-hak adami khususnya terkait persoalan keagamaan menjadi hal yang begitu sakral untuk di intervensi.

Secara garis besar, persolanan ini tidak terlepas dari persoalan Hisab Rukyah yang berkembang di Indonesia. Sebagai bukti, hal ini dapat kita amati beberapa tahun terakhir, perbedaan begitu tampak terjadi antara ormas Islam satu dengan yang lain. Hal tersebut ditengarai karena belum adanya kesepakatan terhadap metode apa yang akan digunakan untuk penetapannya, apakah metode hisab atau metode rukyah.

Dasar Penetapan
Pada dasarnya persoalan hisab rukyat awal bulan qomariah ini bersumber pada pijakan hadits yang sama.

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ . رواه البخاري

Artinya; “berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal pula, jika hilal terhalang oleh awan terhadapmu maka genapkanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari”.


Namun, pada realitanya para ulama berbeda pendapat dalam memberikan interpretasi hadits tentang penetapan awal bulan di atas. Sehingga, pemaknaan nash juga lah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan. Yang mana dari pemaknaan nash tersebut muncul dual metode yang dinamakan hisab dan rukyat. Fenomena yang terjadi di Negara Indonesia, terdapat organisasi masyarakat yang mengklaim diri menjadi dua kelompok besar yakni kelompok yang menggunakan hisab dan kelompok yang menggunakan rukyat.

Kelompok hisab, kelompok ini berpendapat bahwa kata “rukyat” dalam hadits tersebut termasuk ta’aqquli –ma’qul ma’na– dapat dirasionalkan, diperluas dan dikembangkan. Sehingga ia dapat diartikan antara lain dengan “mengetahui” –sekalipun bersifat zhanni (dugaan kuat)– tentang adanya hilal, kendatipun tidak mungkin dapat dilihat misalnya berdasarkan hisab falaki. Dari pendapat ini lahirlah metode Hisab.

Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak untuk menghitung posisi atau kedudukan suatu benda yang diinginkan. Apabila hisab ini dalam penggunaannya dikhususkan pada hisab waktu atau hisab awal bulan, maka yang dimaksud adalah menentukan kedudukan matahari atau bulan. Sehingga, kedudukan matahari dan bulan tersebut dapat diketahui pada saat-saat tertentu, seperti pada saat terbenamnya matahari.

Dengan menggunakan metode ini, kita dapat menghitung awal bulan 10-20 tahun kedepan, bahkan sampai 100 tahun kedepan. Tetapi metode ini memiliki kelemahan, hal ini di sebabkan dalam ilmu falak dalam melakukan perhitungan bukan angka yang tetap, maka di perlukan upaya koreksi ataupun kalibrasi secara berkala.

Di Indonesia organisasi yang diidentikkan menggunakan metode hisab dalam menentukan awal bulan qomariyah adalah Muhammadiyah dan Persis. Yang tidak menutup kemungkinan juga terdapat kelompok-kelompok yang murni menggunakan metode hisab dengan berbagai kriteria. Meskipun demikian, metode yang digunakan oleh organisasi masing-masing sama, akan tetapi tidak menjamin adanya keseragaman atau keserentakan dalam memulai awal Ramadan dan Syawal. Hal ini dikarenakan perbedaan kriteria hisab yang dipakai oleh masing-masing kelompok tersebut. Sehingga persoalan ini semakin bercabang menjadi sub persoalan baru diantara kalangan hisab.

Sementara kelompok rukyah, mereka berpendapat bahwa kata “rukyah” pada hadits di atas bersifat ta’abuddi –ghair al-ma’qul ma’na, artinya tidak dapat dirasionalkan– pengertiannya tidak dapat diperluas dan dikembangkan. Sehingga pengertiannya hanya terbatas pada melihat dengan mata telanjang atau dengan bantuan alat optik. Dan dengan demikian, secara mutlak perhitungan hisab falaki tidak dapat digunakan. Menurut kelompok ini bahwa penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah harus didasarkan pada rukyat atau melihat hilal yang dilakukan pada tanggal 29-nya. Apabila rukyat tidak berhasil dilihat, baik karena hilal belum bisa dilihat atau karena mendung (adanya gangguan cuaca), maka penentuan awal bulan tersebut harus berdasarkan istikmal (disempurnakan 30 hari). Dari pendapat ini lahirlah metode rukyah.

Organisasi yang menggunakan metode rukyah adalah NU dan Hizbut Tahrir. Walaupun kedua organisasi tersebut sama-sama menggunakan rukyat, tetapi dalam kenyataannya mereka sering berbeda dalam memulai awal Ramadan dan Syawal. Perbedaan tersebut dikarenakan NU menggunakan rukyat lokal atau biasa disebut dengan rukyat wilayat al-hukmi. Sementara itu Hizbut Tahrir menggunakan sistem rukyat global yakni bila bulan sudah terlihat di suatu negara maka wilayah negara lainnya wajib mengikutinya.

Upaya Penyatuan
Persoalan perbedaan penetapan awal bulan qomariyah, seyogyanya tidak stagnan pada persoalan keyakinan semata. Yang melalui system demokrasinya pemerintah membiarkan kelompok-kelompok mayoritas dan minoritas mengeluarkan ketetapan secara intern. Hal ini, akan terlihat ironis jika umat Islam Indonesia merasakan implikasi yang luar biasa karena polemik seperti ini. Persoalan ini sedianya tak akan kunjung usai ketika setiap kelompok masih berpegang pada pendapatnya masing-masing tanpa memperhatikan aspek kemaslahatan umat.

Walaupun pemerintah lewat Kementerian Agama secara maraton selalu mengampanyekan penyatuan dalam penentuan awal bulan qomariah, baik itu melalui loka-karya maupun mengadakan pertemuan intensif antara ormas yang ada agar perbedaan dalam penentuan awal bulan qomariyah tidak akan terjadi lagi. Namun, lagi-lagi mereka tetap mengeluarkan fatwanya tersendiri, dan alasannya hal ini terkait dengan keyakinan dan kebebasan dalam beribadah.

Tidak berhenti di situ, Pemerintah juga telah berusaha menawarkan sebuah metode imkanurrukyah (sebuah metode rukyah yang berlandaskan pada hisab) yang berusaha menjembatani antara metode hisab dan rukyah. Metode ini merupakan ketetapan yang didasarkan Musyawarah menteri-menteri agama Brunai Darusssalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura ( MABIMS). Prinsip metode ini adalah  posisi bulan 2 derajat di atas ufuk ketika matahari terbenam dan sudut elongasi antara matahari dan bulan minimal 3 derajat atau usia bulan minimum 8 jam sejak terjadinya ijtimak (konjungsi).

Dari upaya tersebut, pemerintah sebagai otoritas resmi mengharap bisa memberikan keputusan obyektif dan benar-benar ilmiyah. Umat Islam sepenuhnya memberikan kepercayaan penuh terhadap ketetapan hari raya kepeda pemerintah. Hal ini, sebagai upaya bahwa keputusan ulil amri menjadi solusi dissenting opinion.

Fatwa MUI nomor 2/2004 tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah, yang menyatakan bahwa (1) penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pernerintah RI cq Menteri Agarna dan berlaku secara nasional, (2) seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah, (3) dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan Instansi terkait.

Terakhir, dalam rangka ketertiban pelaksanaan ibadah penulis mengajak kepada pembaca agar senantiasa memberikan otoritas penuh kepada pemerintah sebagai daulah, seyogyanya ketetapan pemerintah akan senantiasa bertujuan untuk ittihad ummat dan kemaslahatan ummat sebagaimana pada kaedah fiqh : tasharruf al-imãm manûthun bil maslahãh (kebijakan pemimpin harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat), maka sewajarnyalah ummat Islam mematuhi keputusan ulil amri (Pemerintah) dalam penetapan  awal puasa dan hari raya. [ ]

* Alumnus Doktren Futuhiyyah 2 Bukit Kemuning Lampung dan Alumnus Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag RI konsentrasi Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang.

 
< Prev   Next >

:: Agenda ::



SELAMAT DATANG
di
www.pondokpesantren.net

"Media Pemberdayaan Pendidikan
Agama dan Keagamaan"

====()====
 
SELAMAT DATANG
di
www.pondokpesantren.net

"Media Pemberdayaan Pendidikan
Agama dan Keagamaan"






ss
ss

:: Kajian Kitab Kuning ::


Image
Kitab at-Tauhid

Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.   

Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.

Read more...
 
 

© 2014 Pondok Pesantren