:: Editorial ::
Merayakan Kemerdekaan
Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi. |
|
Read more...
|
:: Tokoh Pesantren ::
|
"Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran"  K.H. Abdul Rozaq Shofawi
Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.
Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.
|
|
Read more...
|
|
|
| |
|
Pembinaan Santri Penerima Beasiswa 2009 |
|
|
|
Rabu, 16 Desember 2009 |
|
www.pondokpesantren.net (Jakarta) – Dalam rangka meningkatkan wawasan pengetahuan kepesantrenan dan ke-Indonesia-an serta meneguhkan komitmen pengabdian pada pondok pesantren, maka Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI, selaku pengelola Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) akan mengadakan pembinaan bagi para santri yang menerima beasiswa dari program tersebut.
Waktu dan tempat pelaksanaan dari kegitan ini dibagi atas 3 (tiga) zona. Zona I (Barat) bertempat di PP. Darunnajah Jakarta pada tanggal 18-20 Desember 2009 dengan diikuti oleh 395 mahasiswa dari perguruan tinggi ITB (32 orang), IPB (224 orang), dan UIN Syarif Hidayatullah (141 orang).
Zona II (tengah) diikuti oleh 539 mahasiswa dari perguruan tinggi UGM (300 orang), UIN Sunan Kalijaga (121 orang), dan UIN Walisongo (120 orang) dengan bertempat di PP. Sunan Pandanaran DI Jogjakarta pada tanggal 25-27 Desember 2009.
Sedangkan zona III (Timur) dilaksanakan pada tanggal 1-3 Januari 2009 bertempat di PP. Miftahul Ulum Al Yasini Pasuruan Jawa Timur dengan diikuti oleh 528 mahasiswa dari perguruan tinggi ITS (229 orang), Unair (144 orang), dan IAIN Sunan Ampel (159 orang).
Dalam kesempatan lain, H. Choirul Fuad Yusuf, Direktur PD Pontren Departemen Agama RI menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan ini akan diisi dengan materi berupa taushiyah dan focus group discussion (FGD) dengan diarahkan pada pengembangan kepesantrenan, keislaman dan ke-Indonesia-an, aksi sosial kemasyarakatan, peningkatan potensi peserta program dan fun learning sebagai sarana refreshing.
Rencananya, sambung Choirul, acara ini juga akan dihadiri oleh para tokoh nasional dan sekaligus sebagai narasumber seperti; Prof. Drs. KH. Tolhah Hasan, KH. Makrus Amin, Ir. KH. Sholahuddin Wahid, dan Drs. H. Slamet Effendi Yusuf, M. Si.
Dalam pembinaan ini juga terdapat aksi pengabdian kepada masyarakat dengan berdasarkan program studi yang sedang ditempuh di perguruan tinggi masing-masing. Bidang-bidang tersebut adalah Bidang Kesehatan, Bidang Pertanian dan Peternakan, Bidang Teknologi dan Sains serta Bidang Keagamaan dan Kemasyarakatan, papar peraih dua gelas master ini. (pip)
|
|
|
|
:: Agenda ::
|
|
:: Kajian Kitab Kuning ::
 Kitab at-Tauhid
Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.
Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.
|
|
Read more...
|
|