Oleh : Ruchman Basori
 Mulai tanggal 15 sampai 20 Juni 2009, Direktorat Pendidkan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama akan menggelar Perkemahan Pramuka Santri Nusantara ke-2, yang diikuti oleh pramuka santri dari Gugus Depan yang berpangkalan di Pondok Pesantren se-Indonesia. Lebih dari 6000 pramuka santri penegak dan 5.000 pramuka penggembira diperkirakan akan memadati Bumi Perkemahan Letjen (Purn) DR. (HC) Mashudi Jatinangor Sumedang Jawa Barat.
Bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh dan heran kenapa komunitas pesantren, tempat di mana kaum bersarung tinggal dan mengaji kitab-kitab kuning menggelar perkemahan pramuka. Apalagi perkemahan pramuka santri ini diadakan di tengah Gerakan Pramuka Nasional setelah 45 tahun lahir di negeri ini, sedang mengalami pasang surut. Tetapi ini merupakan fakta, di mana santri tidak lagi dipandang dengan sebelah mata.
Tulisan ini dimaksudkan untuk merefleksikan gerakan pramuka di pondok pesantren, misi yang di kembangkan dan bagaimana kontribusinya dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan. Tulisan ini secara praksis ingin memotret eksistensi Gerakan Pramuka Santri melalui momentum Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2009 di Sumedang.
Eksistensi Pramuka Santri Istilah pramuka santri bukan ditujukan untuk menunjukan eklusifitas kalangan pondok pesantren di dalam mengembangkan diri, tetapi hanya sebagai wadah dan alat pendidikan bagi anggota yang terdiri dari anak-anak bangsa yang sedang ”nyantri” di pondok pesantren.
Arah pengembangan pondok pesantren ditujukan pada tiga fungsi sekaligus, yaitu: Pertama, pondok pesantren sebagai lembaga pengembangan keagamaan (tafaqquh fiddin); Kedua, pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan IPTEK dan Ketiga, pesantren sebagai lembaga pengembangan masyarakat (community development). Salah satu implementasinya adalah pengembangan dan pemberdayaan generasi muda santri melalui Gerakan Pramuka.
Secara substansi nilai-nilai kepanduan (pramuka) telah ada di pondok pesantren jauh sebelum Indonesia merdeka. Nilai-nilai ini termanifestasikan dalam diri pejuang Hizbullah, Hizbul Wathan dan gerakan lainnya. Para kyai, ustadz dan pemuda yang nota bene adalah kaum santri, senantiasa gigih merebut kemerdekaan. Salah satunya adalah tumbuhnya jiwa dan nilai-nilai nasionalisme, semangat kebangsaan yang senantiasa terpancar dan tumbuh berkembang sampai sekarang.
Fenomena munculnya Resolusi Jihad, yang dipelopori KH. Hasyim Asyari dan kyai-kyai lain yang berasal dari pesantren menunjukan suatu bukti bahwa komunitas pesantren mempunyai kepedulian yang tinggi untuk melawan segala bentuk kolonialisme (penjajahan). Puncaknya adalah peristiwa 10 Nopember di Surabaya, dimana kaum santri menjadi garda terdepan perjuangan kemerdekaan. Dapat dikatakan bahwa sejarah pesantren adalah sejarah nasionalisme.
Pondok pesantren yang sampai saat ini menurut data EMIS Ditjen Pendidikan Departemen Agama RI, berjumlah 20.000 pesantren dengan jumlah santri tidak kurang 5 juta orang mempunyai potensi yang sangat besar bagi tumbuhnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, salah satunya adalah melalui wadah Gerakan Pramuka di Pondok Pesantren. Jika dilihat dalam persepktif kelembagaan Gerakan Pramuka Santri telah ada dan berkembang di sejumlah pesantren di Indonesia terutama pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal (sistem madrasi).
Departemen Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren merasa bertanggungjawab untuk memberdayakan dan mengembangkan keberadaan Gerakan Pramuka Santri melalui berbagai program kegiatan seperti pengembangan wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketrampilan dan keahlian, kecakapan hidup (life skill) baik yang ditujukan untuk pramuka santri maupun para pembina pramuka. Salah satu wujud konkretnya adalah menggelar Perkemahan Pramuka Santri Nusantara sebagai ajang memperkuat semangat nasionalisme dan patriotisme, mengembangkan ketrampilan dan kreativitas santri, penggalian bakat dan minat, dan juga bentuk-bentuk pengembangan wawasan keagamaan dan ke-Indonesiaan para santri se-Nusantara.
Misi yang ingin dikembangkan Gerakan Pramuka Santri adalah munculnya sosok pramuka yang memiliki integritas kepribadian, yaitu nilai-nilai moralitas dan religiusitas yang terpadu dengan nilai-nilai pengetahuan dan ketrampilan. Dengan bahasa lain seimbangnya antara Iman dan Taqwa (IMTAQ) dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Hal ini menjadi kebutuhan dasar di saat bangsa ini sedang dilanda krisis moral dan akhlak. Ini harus menjadi misi pokok pramuka santri di dalam berspikir, bersikap dan berprilaku.
Semangat Kebangsaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2009 merupakan pertemuan Pramuka Penegak utusan dari pondok-pondok pesantren se-Indonesia yang berada di bawah satu kontingen Daerah dan dikoordinir oleh Kanwil Departemen Agama dan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka yang diselenggarakan dalam bentuk perkemahan dengan melakukan berbagai aktivitas yang bersifat kreatif, produktif, edukatif, inovatif dan rekreatif.
Perkemahan ini merupakan momentum penting bagi pondok pesantren untuk mengekspos peran-peran strategis pramuka pondok pesantren sekaligus mengidentifikasi ulang nilai-nilai kepanduan bagi kepentingan kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan. Lebih penting dari itu, secara politis untuk mengangkat lembaga pesantren sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional, yang selama ini masih ”termarginalkan”.
Untuk itu setidaknya Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2009 mempunyai maksud dan tujuan, yaitu: (1) Mendorong dan menumbuhkembangkan kesadaran bela negara di lingkungan santri. (2) Mewujudkan Tri Satya dan Dasa Darma anggota Gerakan Pramuka dalam menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat. (3) Berkembangnya jiwa korsa anggota Gerakan Pramuka sebagai upaya untuk menggalang persatuan dan kesatuan generasi muda. (4) Meningkatkan rasa penggabdian dan kepedulian anggota Gerakan Pramuka terhadap masyarakat, bangsa dan negara. (5) Sebagai wadah pertemuaan pramuka penegak di pondok pesantren untuk menggalang persaudaraan, menambah pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan meningkatkan rasa pengabdian yang tinggi terhadap masyarakat.
Desain perkemahan dirancang dengan nuansa dan karakter khusus perkemahan ala-pesantren yang sarat dengan muatan nilai-nilai moralitas dan religiusitas, di samping aspek intelektualitas, keterampilan dan permainan edukatif. Hal ini untuk menanamkan tiga nilai-nilai, yaitu intelektualitas (pengetahuan), religiusitas (keagamaan), dan kebangsaan kepada para santri. Dalam bahasa pesantren adalah berilmu amaliah, beramal ilmiah dan bertaqwa ilahiyah. Hal ini sesuai dengan motto Perkemahan Pramuka Santri Nusantara adalah: ”satyaku kudarmakan dan darmaku kubaktikan”.
Dalam konteks ini Choirul Fuad Yusuf, selaku Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren menekankan pentingnya kemah santri sebagai upaya meneguhkan semangat nasionalisme santri, mengembangkan kreatifitas dan ajang ekspos pondok pesantren dibidang iptek, sosial dan budaya. Hal ini untuk menunjukan bahwa kalangan pesantren tidak gagap teknologi. Tantangan kedepan adalah harus di jawab dengan penguasaan ketrampilan dan keahlian yang memadai di bidang Iptek tak terkecuali kalangan pesantren.
Dari berbagai macam dan jenis kegiatan yang disajikan bersifat kreatif, rekreatif, edukatif dan inovatif dengan mengingat kemampuan peserta sebelum mengikuti kegiatan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2009. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan dalam suasana riang gembira penuh rasa persaudaraan, persahabatan, perdamaian dan kekeluargaan, baik sesama peserta maupun dengan masyarakat setempat yang didasari janji Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka. Dengan berkemah di alam terbuka akan dapat pelajaran dari alam semesta (tadabur fi alam).
Pelbagai kegiatan telah dirancang dalam Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2009, yaitu: Aktivitas kepramukaan yang diarahkan pada teknik kepramukaan (scouting skill), pengembangan mental-spiritual, kegiatan ekspos sains dan teknologi terutama teknologi tepat guna, kegiatan pengembangan cakrawala dan wawasan, kegiatan seni budaya dengan titik tekan penggalian seni budaya lokal, yang kesemuanya itu merupakan ajang silaturahim dan ekspos aktivitas dan kreativitas pramuka santri.
Selain kegiatan tersebut, juga diagendakan acara siraman rohani untuk memompa semangat keagamaan, Seminar dan Lokakarya Nasional tentang Revitalisasi Gerakan Pramuka di Pondok Pesantren, pemecahan Rekor Musium Rekor Indonesia (MURI) berupa Parade Semapore Santri Terbanyak di dunia dengan pesan-pesan nasionalisme, patriotisme dan perdamaian dunia. Juga akan digelar pameran dan bazar yang menampilkan potensi-potensi pondok pesantren se-Nusantara yang juga diikuti oleh masyarakat umum dari usaha kecil dan menengah. Kegiatan Penanaman Pohon Bineka Tunggal Ika, yaitu berupa penanaman pohon khas dari masing-masing daerah dalam satu lokasi. Ini mengandung pesan santri terhadap penanaman nilai-nilai keagamaan yang tetap dalamn Kesatuan Negara Republik Indonesia.
Spirit yang ingin ditonjolkan adalah komitmen dari semua pihak untuk menjadikan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2009 sebagai momentum memperkuat nasionalisme dan patriotisme generasi muda. Wujud konkritnya adalah tertanamnya pengetahuan, kesadaran kolektif dan sikap mental untuk peka terhadap nasib bangsa yang sedang dalam nestapa akibat musibah demi musibah. Kesadaran ini penting di saat bangsa ini sedang mengalami krisisi identitas dan lunturnya nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Dan juga komitmen bersama untuk memerangi Korupsi, Korupsi dan Nepotisme yang menjadi musuh bersama bangsa Indonesia (common anemy).
Inilah momentum yang tepat agar Pramuka Santri tampil di depan, dengan wawasan kebangsaan yang terbuka, nasionalisme yang mendalam, dan dilandasi dengan nilai-nilai moralitas akan dengan mudah mengisi ruang kosong yang saat ini ditinggalkan oleh banyak orang. Selamat berkemah, ikhlas bakti bina bangsa berbudi bawa laksana. Wallahu A’lam bi al-Shawab. [ ]
Ruchman Basori, Staf Pelaksana Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama
|