:: Editorial ::
Merayakan Kemerdekaan
Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi. |
|
Read more...
|
:: Tokoh Pesantren ::
|
"Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran"  K.H. Abdul Rozaq Shofawi
Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.
Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.
|
|
Read more...
|
|
|
| |
|
|
|
|
|
Sabtu, 13 Juni 2009 |
|
Perkemahan Pramuka Santri dan Nasionalisme
Sejarah pondok pesantren adalah sejarah nasionalisme dan patriotisme. Pada zaman penjajahan berlangsung, pondok pesantren adalah tempat untuk menggembleng para pejuang. Lembaga yang pada awalnya hanya ada di daerah-daerah pelosok ini menjadi pusat untuk menggelorakan semangat para pejuang untuk mengusir penjajah.
Pun demikian saat negara ini sudah merdeka dan memasuki gerbang pembangunan, peran pesantren sangatlah besar. Banyak hal yang menuai hasil sangat bagus karena peran serta pesantren. Program Keluarga Berencana (KB) adalah salah satu contoh kecil keberhasil sebuah program nasional karena peran serta pondok pesantren.
Peran pesantren untuk menopang pembangunan negara ini terus berlangsung hingga sekarang. Saat pola pikir dan gaya hidup masyarakat mulai bergeser, dan semangat kebangsaan semakin luntur, pondok pesantren terus berusaha untuk menggelorakan pentingnya menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme. Nasionalisme dan patriotisme tidak bisa tumbuh dengan sendirinya, tetapi merupakan kesadaran yang harus dibangun, dan ditumbuhkan dalam diri setiap warga negara melalui berbagai upaya, utamanya pendidikan.
Para negarawan berargumen, sebuah negara tidak akan pernah menuju kehancuran, tetapi justru menuju puncak kejayaannya jika dalam diri setiap masyarkatnya tertanam kekuatan hati untuk mengorbankan segala apa demi kepentingan negara. Sebuah sikap yang mengajarkan bahwa kepentingan negara tidak boleh dihambat oleh kepentingan pribadi. Dan itu hanya bisa tertanam melalui kebijakan yang terencana.
Secara beriringan argumen itu sejalan dengan visi dan misi gerakan pramuka di Indonesia, yaitu sebagai upaya bela negara untuk mempertahankan kesatuan, mengembangkan kepemimpinan pemuda, jiwa ksatria, patriotisme, serta menghargai kemajemukan dan perbedaan.
Departemen Agama RI melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam berusaha untuk membuat kebijakan yang terencana tersebut melalui pendidikan di pondok pesantren. Trilogi pengembangan pesantren, yaitu pondok pesantren sebagai pusat pengembangan ilmu agama (tafaqquh fiddin); pondok pesantren sebagai pusat pendidikan; dan pondok pesantren sebagai pusat pengembangan masyarakat sangat tepat untuk penggemblengan nasionalisme, baik melalui kurikulum maupun kegiatan sehari-hari.
Kegiatan kepanduan ini diharapkan mampu mengembangkan nilai-nilai akhlakul karimah, kemandirian, demokrasi, ramah lingkungan, cinta perdamaian, dan mencetak santri yang humanis dan inklusif. [ ]
|
|
|
|
:: Agenda ::
|
|
:: Kajian Kitab Kuning ::
 Kitab at-Tauhid
Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.
Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.
|
|
Read more...
|
|