:: Menu Utama ::

Home
Editorial
Berita
Kajian Kitab Kuning
Direktori Pesantren
Wacana
Wawancara
Tokoh Pesantren
Beasiswa Pesantren
Gallery
Redaksi
Links
Download

:: Editorial ::

Merayakan Kemerdekaan

Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi.

Read more...
 

:: Tokoh Pesantren ::

"Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran"

Image
K.H. Abdul Rozaq Shofawi

 Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.
 
Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.

Read more...
 
Revitalisasi Fiqih Indonesia PDF Print
Rabu, 16 Maret 2011

Oleh: Subkhan*

ImageDinamika perkembangan Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh fiqh; sebagai pijakan elit agama (red: ulama’) dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan dan keagamaan, dari fiqih bangunan peradaban Indonesia memiliki word view (tata-nilai) yang luhur dan beradab, karena hakikat Islam adalah menjunjung tinggi local-wisdom (kesadaran lokal) peradaban dan budaya  dalam menata pranata-pranata sosial sehingga kehadiran Islam bisa dirasakan sebagai ”rahamatan lil ’alamin”.


Untuk itu dari masa ke masa fiqih Indonesia selalu mengalami tajdid (pembaruan) yang lebih konfrenhensif dalam mensikapi masalah-masalah kebangsaan dan keagamaan, proses pembaruan ini terus bergulir dalam tahapan yang lebih sistemik ke arah manhajul fikri (paradigma) sesuai metode, konsep serta konstruksi filosofis yang terdapat dalam khazanah kitab fiqih klasik, sehingga ruang lingkup keberfiqihan benar-benar metodologis melalui disiplin ushul-ul-fiqhi dan qawa’id fiqhiyah, dan bukan semata-mata bentuk jadi sebuah hukum atau materi semata.

Konsep fiqih sebagai paradigma pemahaman agama yang transformatif sehingga mampu menjelaskan realitas kehidupan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan menuju fiqih is agen of change menuju tatanan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan yang adil sejahtera.

Karenanya (syari’at Islam) memiliki Al-Maqashidi Syar’iyah (tujuan-tujuan syari’at), salah satu pointnya adalah Ad-Dzaruriyatul Khamsah (hak-hak dasar) manusia, yaitu terpeliharanya agama, jiwa, akal, keturunan, serta harta dan benda, sebagai bagian terpenting orientasi atau pijakan tajdid (pembaruan) melalui instinbat (penggalian hukum) fatwa dan ijtihad, maka peran ushul alfiqh (legal theory) dan qawa’id fiqhiyah (legal maxims) sebagai perangkat yang mendesain produk-produk fiqih.

Tapi seiring dengan perubahan zaman, khususnya di Indonesia yang mengalami berbagai krisis multi-dimensi telah mengakibatkan terpuruknya tatanan sosial ekonomi, budaya dan peradaban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena, fiqih sebagai medium (pesan) nilai-nilai universalitas ajaran Islam belum secara maksimal memberikan konstribusi besar untuk membangkitkan kembali bangsa dan negara yang sudah diambang ”keterpurukan” yang dahsyat dalam sendi kehidupan sosial kemasyarakatn dan kebangsaan saat ini.

Bahkan yang sering terjadi justru produk-produk fiqih dijadikan ”alat” untuk ”melayani” penguasa, ketimbang diorientasikan keberpihakannya kepada kepentingan hak-hak rakyat (publik) yang sering ”diperkosa” penguasa demi melanggengkan kekuasaan politik si  penguasa itu sendiri.

Tatanan sosial ekonomi, politik dan budaya bangsa dan negeri ini yang carut-marut mestinya menyadarkan umat Islam agar kembali menengok sejarahnya; peradaban Islam Nusantara adalah bagian dari budaya yang tinggi nilainya dan memiliki identitas budaya yang paling luas yang dimiliki umat Islam Indonesia yang menjadi pembeda dengan masyarakat lainnya. Peradaban Islam Nusantara teridentifikasi dalam unsur-unsur obyektif umum seperti seni, bahasa, sejarah, institusi, dan identifikasi diri secara subyektif.. Dan bentuk-bentuk itu tidak berhenti pada disposisi psikologis masa silam, melainkan berkembang sesuai akulturasi dunia modern dan sekularisasi didunia.

Semestinya umat Islam Nusantara memiliki keuletan dan tidak akan menyerah semua yang telah dicapai sekedar hanya kenangan sejarah, ataupun dipuja dalam simbolisasi belaka, tanpa memikirkan problematika sosial kekinian yang secara darurat diperlukan pikiran-pikiran cerdas untuk menggali lebih intens dan dalam tema-tema fiqih yang progresif dan produktif bagi kemajuan dan peradaban Islam Nusantara yang lebih mensejahterakan baik materiil maupun spirituil.

Berangkat dari fenomena diatas, upaya pembaruan hukum Islam melalui wahana ijtihad adalah keniscayaan. Tetapi realitas baru yang muncul, alih-alih ingin melakukan pembaruan tetapi kenyataanya? Para pembuat fatwa (ahli hukum Islam) lebih melayani elit penguasa ketimbang pelayanan terhadap kepentingan rakyat kecil yang semestinya perlu mendapatkan advokasi dan legitimasinya dari perspektif fiqih Islam.

Revitalisasi Fiqih Indonesia
Fiqih Indonesia adalah fiqih yang memiliki sumbu dialektika dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan, menurut Gus Dur; ”Kosmopolitannisme peradaban Islam Indonesia tercapai atau berada pada titik optimal, manakala tercapai keseimbangan antara kecenderungan normatif kaum muslimin dan kebebasan berfikir semua warga masyarakat”. Artinya, disini ada unsur kreatif untuk membentuk inisiatif, nuansa dan nafas baru bagi ajaran dan doktrin Islam, khususnya dalam konteks fiqih.

Transisi demokrasi Indonesia yang telah berusia 10 tahun belum maksimal mengangkat kesejahteraan ekonomi rakyat Indonesia, berbagai program pemerintahan era reformasi masih ”setengah hati” keberpihakannya terhadap kaum buruh, petani, nelayan dll. Belum lagi, ideologi tran-nasional telah menggerogoti Character Building bangsa dan negara, identitas kebangsaan, peradaban dan budaya luhur kini mengalami ”erosi” akibat demokrasi liberal dan kapitalisme pasar yang di agung-agung-kan negara-negara dunia sebagai ”kiblat” konsepsinya, tak terkecuali Indonesia.

Sejarah mencatat keberperanan fiqih (melalui Kiai, Ulama’ pesantren) telah memiliki kontribusi penting dalam ikut serta mewarnai kehidupan peradaban dan budaya bangsa Indonesia, baik dalam sistem ekonomi, pendidikan, politik dan keberagamaan. Hal ini, dikarenakan fiqih yang di ”tawarkan” oleh misionaris Islam benar-benar berorientasi ”membebaskan” masyarakat kecil agar bangkit dari keterbelakangan menuju  spirit illahiyah dalam rangka memperbaiki tatanan aspek kehidupannya yang lebih baik.

Prinsi-prinsip ajaran fiqih yang berkembang diatas, sesuai perintah Allah SWT yang mengutus Muhammad saw  dengan kecenderungan suci yang lapang (al-hanifiyyat al-samhah). Rasulullah bersabda; bahwa ”agama yang paling disukai Allah SWT ialah al-hanifiyyat al-samhah. Kemudian kecenderungan suci yang lapang itu dilengkapi dengan tata cara hidup praktis yang serba meliputi (al-syari’at al-jami’ah). Namun sifatnya yang menyeluruh itu masih dapat dikenali adanya dua hal yang berbeda-beda: hal-hal parametris keagamaan yang tidak berubah-rubah (hukmi qath’i), dan hal-hal dinamis (hukmi mujarad), yang berubah-rubah menurut dinamika dan perubahan zaman.

Permulaan fiqih Indonesia paling banyak mempengaruhi cara pandang orang-orang muslim Indonesia dan pemahaman mereka kepada agama mereka. Karena itu Pondok Pesantren  konsisten menggunakan literatur fiqih  sebagai salah refrensi dalam pengembalian hukum Islam (istinbat) yang paling kaya khazanah pemikirannya serta paling canggih dalam menyelesaikan problematika sosial.

Disebabkan oleh kuatnya orientasi fiqih yang dijadikan rujukan para misionaris Islam awal perkembangan Islam di Indonesia maka masyarakat Islam nusantara dimana saja mempunyai orientasi hukum yang amat kuat. Kesadaran akan hak dan kewajiban menjadi tulang punggung peradaban dan budaya Indonesia. Disebutkan bahwa salah satu yang menarik pada agama Islam sehingga orang-orang muslim Indonesia dalam pergaulan sehari-hari (mu’amalah) sangat mementingkan kepastian hukum, sehingga terdapat keteraturan dan predictability. Ini penting khususnya dikalangan pelaku ekonomi, pengusaha dalam menjalankan sistem perdagangan.

Selanjutnya, beberapa unsur cita-cita fiqih sebagai hukum Islam di Indonesia berkenaan dengan kemasyarakatan dan kebangsaan adalah memiliki prinsip persamaan (egalitarianisme) dan keadilan, penegasan atas persamaan dan keadilan setiap orang di hadapan hukum.

Transformasi fiqih menjadi hukum positif nasional memang telah lazim terjadi dalam sejarah Indonesia, dahulu hingga sekarang. Bahkan lebih jauh dari itu, berbagai sumbangan pemikiran dibidang aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana perkembangan fiqih dari masa ke masa  memberikan kontribusi dalam merumuskan kaidah-kaidah hukum nasional di masa dulu, sekarang dan yang akan datang.

Untuk itu tugas para Ulama’ dan cendekiawan muslim yang mempunyai komitmen pada Islam menggali sedalam-dalamnya warisan tradisi hukum Islam, untuk kemudian menarik garis relavansi dengan pembangunan sosial ekonomi, budaya, politik Indonesia. Disinilah peranan Islam yang mesti diperkuat dalam merevitalisasi fiqih dalam sendi-sendi kebijakan negara terhadap rakya tanpa harus memperlihatkan bendera ”syari’at Islam”.

*Subkan, Alumnus PP Al-Istiqomah Glagah Wangi Bintoro Demak Jawa Tengah
 
< Prev   Next >

:: Agenda ::



SELAMAT DATANG
di
www.pondokpesantren.net

"Media Pemberdayaan Pendidikan
Agama dan Keagamaan"

====()====
 
SELAMAT DATANG
di
www.pondokpesantren.net

"Media Pemberdayaan Pendidikan
Agama dan Keagamaan"






ss
ss

:: Kajian Kitab Kuning ::


Image
Kitab at-Tauhid

Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.   

Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.

Read more...
 
 

© 2014 Pondok Pesantren