:: Menu Utama ::

Home
Editorial
Berita
Kajian Kitab Kuning
Direktori Pesantren
Wacana
Wawancara
Tokoh Pesantren
Beasiswa Pesantren
Gallery
Redaksi
Links
Download

:: Editorial ::

Merayakan Kemerdekaan

Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi.

Read more...
 

:: Tokoh Pesantren ::

Kyai Falak Era
Millennium


Image
KH. Dr. Ahmad Izzudin, M.Ag

Banyak tokoh muslim kita yang sukses lahir dari didikan orang tua yang keras.  Begitu pula dengan tokoh satu ini, Kyai kelahiran Kudus dengan segudang pengabdian untuk umat dan majunya Ilmu Falak. Kepribadian dan perjuangan beliau dalam membumikan ilmu yang sangat langka, yaitu Ilmu Falak mendapat perhatian manakala kita mengamati perjalanan hidupnya. Dengan berbagai kisah, pengalaman, dan cerita yang masih saya ingat, sebagai muridnya selama di Semarang sampai dengan sekarang, pandangan saya terhadap beliau masih tetap sama, sebagai tokoh umat.

Read more...
 
Pondok Pesantren Darus Sholah PDF Print
Kamis, 21 April 2011
Image

Sepulang dari Madinah, setumpuk kegiatan telah menanti Kiai muda yang berwawasan luas ini. Sontak, beliau sibuk membina pengajian di kampung? kampung. Salah satunya, mengasuh pengajian di Gang Paneli Talangsari Jember. Di tengah kesibukan mengasuh beberapa pengajian, beliau juga tengah mempersiapkan embrio pesantrennya, Darus Sholah. Tepatnya, pada 27 Rajab tahun 1987, Gus Yus meresmikan kelahiran pesantrennya. Pesantren ini didirikan di JI. Moh. Yamin 25, Tegal Besar Jember di atas tanah seluas 8 hektare. Saat itu, keadaan di lokasi pesantren masih sunyi, tidak seramai sekarang. Belum ada kendaraan, waktu itu. listrik juga masih menggunakan diesel. Hanya ada beberapa gelintir santri yang menimba ilmu di pondok Gus Yus tersebut.

Adalah Kiai As'ad Syamsul Arifin, seorang kiai kharismatik asal Situbondo, yang meletakkan batu pertama Pesantren Darus Sholah. Sewaktu itu, Kiai As'ad sudah menjadi orang yang demikian dituakan di jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Kiai As'ad lah yang bersama sejumlah kiai senior seperti KH. Achmad Shiddiq dan KH. Ali Maksum, pada tahun 1984, menjadi tokoh kunci yang sangat menentukan derap langkah Nahdlatul Ulama.

Saat itu, Nahdlatul Ulama berada dalam ambang kehancuran karena badai konflik internal. Untungnya, kiai As'ad dan beberapa kiai kharismatik yang lain berhasil menyelesaikan konflik ini. Makanya, sangat tepat kiranya jika kiai yang juga abah KH Fawa'id Situbondo ini yang didaulat Gus Yus untuk meresmikan pesantrennya. Apalagi, ternyata KH Muhammad, abah Gus Yus, adalah senior Kiai As'ad.

Sebaliknya, ketika Kiai As'ad bermaksud mendirikan Ma'had Aly pada tahun 1990, Gus Yus dan juga Gus Nadzir, kakaknya dimintai bantuannya untuk turut serta merumuskan pendirian program pendidikan pasca pesantren tersebut. Bersama sejumlah kiai senior, beliau didapuk untuk turut menyumbangkan pikiran bagi pendirian dan pengembangan Ma'had Aly ke depan. MA sendiri diangankan oleh para pendirinya, untuk mampu mencetak kader kader ulama yang, menurut Kiai As'ad, kian langka. Tidak hanya itu. Pasca pendirian MA, Gus Yus juga dimohon untuk menjadi salah satu staf pengajar di sana. Hanya karena beliau belakangan sibuk di dunia politik, kiai politisi ini hanya dimintai mengajar satu bulan sekali sebagai dosen tamu.

Sedikit demi sedikit, Gus Yus pun membangun "pondasi" pondoknya. Santri santrinya pun dari tahun ke tahun, kian banyak. Tidak hanya dari Jember, tapi juga dari luar kota suwar-suwir tersebut. Karena maksud memodernisasi pondok, Gus Yus akhirnya juga mendirikan sekolah umurn seperti TK, SD, SMP Plus, SMA Unggulan, MA /MAK dan lain lain. Kendati demikian, aura salaf pondok pesantren Darus Sholah tetap dipertahankan. Nampaknya, Gus Yus hendak menerapkan kaidah :"al muhafadlah alal qadi mi as shalih wal akh dzu bil jadidi ashlah". Meneruskan tradisi salaf yang baik, tapi juga mengambil nilai modem yang baik.

Selain itu, kiai yang juga politisi ini membangun masjid megah yang rencananya dijadikan Islamic Centre. Mungkin, benar juga kata Kiai As'ad pada Gus Yus, ketika bertiga: beliau, Gus Nadzir dan KH Hasan Bash pada 10 Ramadlan tahun 1990, secara khusus dipanggil oleh kiai kharismatik asal Situbondo tersebut. "Raje pondukke sampean (akan besar pondok anda)", tukas kiai As'ad sambil menepuk dada Gus Yus yang berada di sebelahnya. Nampaknya, ramalan kiai sepuh ini benar-benar menjadi kenyataan. Setapak demi setapak, Darus Sholah semakin ditata dengan baik. Santri santrinya juga semakin meluber. Sungguh, prestasi yang luar biasa. Dalam usia yang belia, pesantren baru ini cukup dikatakan maju dan besar.

Gus Yus berharap, pesantrennya akan menjadi mandiri. Mandiri, dalam arti kata, segala sesuatu yang berjalan di pesantren, lebih karena sistem yang berjalan. Memang, banyak orang cukup risau, siapa yang nanti menggantikan Gus Yus, jika sewaktu-waktu beliau tidak ada. Karena, pengaruh kiai muda ini sangatlah menentukan. Tapi, kerisauan ini sendiri sudah dijawab.Setelah ditinggalkan Gus Yus kegiatan Darus Sholah tidak terganggu dan tidak terbengkalai,hal ini dikarenakan Gus Yus telah meletakkan dasar-dasar manajemen pondok yang profesional. Segalanya berjalan apa adanya sesuai dengan sistem yang berlaku, dan bahkan Darus Sholah tambah menjelma menjadi pondok yang sangat diminati oleh masyarakat, hal ini dibuktikan dengan semakin bertambah banyak santri yang mondok dipesantren ini, bahkan Darus Sholah kekurangan gedung (Ruang sekolah dan asrama) untuk menampung santri yang semakin membeludak.

Hanya saja, banyak obsesi beliau yang belum selesai. Pertama, keinginan Gus Yus mendirikan Perguruan Tinggi yang bersifat kejuruan di pesantren. Seperti Akademi Perawat, Fakultas Kedokteran dan lain lain.

Kedua, membangun studio radio yang dapat menjadi media dakwah ke masyarakat. Ini mengingatkan kita, tatkala beliau aktif menjadi penyiar radio di masa remaja. Dan ketiga, meneruskan pembangunan masjid yang beliau cita-citakan bakal menjadi Islamic Centre, yang hingga kini baru 75 persen. Inilah tugas kolektif yang bakal dipikul, baik oleh Gus Nadzir, selaku penerus/pengasuh Darus Sholah, ataupun perangkat sistemik Darus Sholah yang lain seperti guru, ustadz dan lain sebagainya. (Sumber: Gus Yus Dari Pesantren Ke Senayan)
 
< Prev   Next >

:: Agenda ::



PENGUMUMAN

*HASIL SELEKSI PBSB 2014


*Registrasi & Matrikulasi*
1. UIN Syarif Hidayatullah
2. ITS

3. UIN Sunan Kalijaga
4. UIN Sunan Guning Djati

5. UNAIR
6. UIN Sunan Ampel
7. IAIN Walisongo
8. Universitas Gadjah Mada
9. UIN Maliki


*==*
PENGUMUMAN HASIL
SELEKSI PBSB IPB
2014
*==*

&

HASIL SELEKSI
PROGRAM BEASISWA
TAHFIZ AL-QURAN
Tahap II
(PBTQ 2014)

Lihat & Download Folder
"Beasiswa Pesantren"

==()==

PENGUMUMAN

*HASIL SELEKSI PBSB 2014

*Registrasi & Matrikulasi*

1. UIN Syarif Hidayatullah
2. ITS

3. UIN Sunan Kalijaga
4. UIN Sunan Guning Djati

5. UNAIR
6. UIN Sunan Ampel
7. IAIN Walisongo
8. Universitas Gadjah Mada
9. UIN Maliki

*==*
PENGUMUMAN HASIL
SELEKSI PBSB IPB
2014
*==*

&

HASIL SELEKSI
PROGRAM BEASISWA
TAHFIZ AL-QURAN
Tahap II
(PBTQ 2014)


Lihat & Download Folder
"Beasiswa Pesantren"




ss
ss

:: Kajian Kitab Kuning ::


Image
Kitab at-Tauhid

Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.   

Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.

Read more...
 
 

© 2014 Pondok Pesantren