:: Menu Utama ::

Home
Editorial
Berita
Kajian Kitab Kuning
Direktori Pesantren
Wacana
Wawancara
Tokoh Pesantren
Beasiswa Pesantren
Gallery
Redaksi
Links
Download

:: Editorial ::

Merayakan Kemerdekaan

Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi.

Read more...
 

:: Tokoh Pesantren ::

Kyai Falak Era
Millennium


Image
KH. Dr. Ahmad Izzudin, M.Ag

Banyak tokoh muslim kita yang sukses lahir dari didikan orang tua yang keras.  Begitu pula dengan tokoh satu ini, Kyai kelahiran Kudus dengan segudang pengabdian untuk umat dan majunya Ilmu Falak. Kepribadian dan perjuangan beliau dalam membumikan ilmu yang sangat langka, yaitu Ilmu Falak mendapat perhatian manakala kita mengamati perjalanan hidupnya. Dengan berbagai kisah, pengalaman, dan cerita yang masih saya ingat, sebagai muridnya selama di Semarang sampai dengan sekarang, pandangan saya terhadap beliau masih tetap sama, sebagai tokoh umat.

Read more...
 
Pesantren dan Tradisi Keulamaan PDF Print
Rabu, 20 Mei 2009
Oleh : Zuhairi Misrawi

Image Bulan lalu, saya sowan ke seorang kiai di ujung timur pulau Madura. Kiai kharismatik yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan di lingkungan pesantren tersebut melontarkan sebuah pandangan kritis, “Mungkinkan pesantren melahirkan ulama-ulama yang mempunyai integritas keilmuan yang kuat?”

Pertanyaan tersebut muncul bukanlah sesuatu yang mengada-ada dan spontan. Sebuah pertanyaan yang timbul dari kegelisahan yang mendalam. Setidaknya ada dua tantangan yang dihadapi pesantren saat ini. Pertama, tantangan eksternal. Pihak dunia internasional memandang pesantren sebagai agen terorisme. Meskipun pandangan tersebut sama sekali tidak benar, tapi adanya oknum segelintir pesantren yang mengusung ideologi kekerasan turut membebani karakter moderat yang sudah lama dikalungkan pesantren.

Pesantren pada hakikatnya merupakan sebuah lanskap dari karekter Islam Nusantara, yang hendak memadukan antara dimensi lokalitas dengan teologi keislaman yang bersifat universal. Sebab itu, pesantren bukanlah institusi yang monolitik dengan mengusung ideologi tertentu. KH. Musthafa Bisri (2008) melontarkan sebuah pandangan yang unik dalam menjelaskan realitas tersebut, bahwa karakter pesantren ditentukan oleh kiai. Jadi, katagorisasi pesantren mengacu pada sistem yang digunakan oleh setiap kiai di pesantren.

Memang tidak mudah untuk memberikan penilaian terhadap pesantren dengan segala keragaman arus, metode, bahkan ideologi yang diusungnya. Karena, hakikatnya pesantren merupakan sebuah ijtihad personal kiai dalam rangka menerjemahkan nilai-nilai keislaman dalam konteks keindonesiaan dengan berbagai kecenderungannya.

Ada kiai yang memandang, bahwa kitab kuning masih relevan untuk segala zaman, dan karenanya harus dipertahankan. Tetapi ada pula yang memandang, bahwa yang penting dari kitab kuning bukanlah teksnya, melainkan substansinya. Yang lebih ekstrem lagi ada yang mengatakan, bahwa kitab kuning adalah segala-galanya. Kitab kuning bisa menjawab berbagai macam persoalan keumatan dari A hingga Z.

Maka dari itu, tantangan eksternal di atas merupakan bola salju yang akan terus menggelinding sepanjang pesantren tidak mempunyai inisiatif untuk melakukan anti-tesa terhadap pencitraan buruk yang dilakukan oleh pihak asing. Mayoritas pesantren yang moderat dan toleran harus mampu mengekspresikan kepada publik perihal nilai-nilai yang dikembangkan di pesantren, khususnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebangsaan dan hak asasi manusia.

Kedua, tantangan internal. Belakangan ini, pesantren mulai gamang di antara mempertahankan identitas sebagai institusi yang dihadapkan mencetak kader umat yang mempunyai keahlian dalam bidang agama (mutafaqqih fi al-dîn) dengan tuntutan sosial yang mulai semakin tergerus oleh arus kapitalisme. Spirit voluntarisme yang melekat di jantung pesantren mulai digoyang dengan kecenderungan untuk menilai segala sesuatunya dengan hal-hal yang berbau materialistik. Kecenderungan mutakhir harus diakui, bahwa tidak banyak pesantren yang bisa bertahan dengan idealismenya untuk mengembangan studi-studi keislaman (islamic studies).

Dalam hal ini, tantangan internal ini sebenarnya jauh lebih berbahaya daripada tantangan internal di atas. Sebab karakter pesantren yang belakangan terkesan “radikal”, bahkan “ekstrem” tidak lain karena tradisi keilmuan yang dulunya menjadi trade mark yang paling menonjol dari pesantren mulai hilang.

Akibat derasnya arus kapitalisme dan godaan politik, pesantren kerap merespon realitas sosial baik dalam skala nasional maupun mondial tidak lagi menggunakan rasio-keagamaan yang begitu luas dan kaya, melainkan tidak sedikit yang berlatar-belakang vested interest,  baik ekonomi maupun politik. Lihat misalnya, bagaimana respon pesantren terhadap korban Lapindo, TKI/TKW, harga-harga sembako yang membumbung tinggi.

Ulama dan Keulamaan
Harus diakui, bahwa masalah yang mulai mengemuka pada panggung pesantren adalah begitu banyak orang yang menjadi “ulama”, tetapi sedikit sekali yang mempunyai karakter “keulamaan” sebagaimana ditunjukkan oleh para ulama di masa lalu. Salah satu contoh adalah Imam al-Ghazali, yang dikenal di kalangan pesantren dengan gelar “hujjatul Islam”. Yaitu seorang ulama garda depan dengan segudang keilmuan yang dimilikinya.
   
Dulu, seorang ulama tidak hanya mempunyai status sosial tertentu, tetapi mempunyai keahlian dan kedalaman ilmu yang sudah diakui publik dan tidak diragukan kemampuannya (muttafaq ‘alayh). Seorang ulama bukan karena simbol yang digunakannya, melainkan pada produksi keilmuan yang telah dilahirkan dan mampu membimbing umat ke jalan yang diridhai Tuhan.
   
Seorang ulama adalah sosok yang mampu memperkaya khazanah keilmuan melalui penalaran dan pembelajaran terhadap khazanah keislaman yang berkembang sebelumnya. Dalam bidang tasawuf, Imam al-Ghazali mengembangkan sufisme yang diletakkan oleh Imam al-Muhasibi, sedangkan dalam bidang filsafat ia mengkritisi pandangan Ibnu Sina.
   
Kepakaran dan kecerdasan Imam al-Ghazali tidak hanya berhembus di lingkungan muslim, tetapi juga merambah ke Eropa. Mahmoud Hamdi Zaqzuq (1996) menemukan sebuah fakta emperik yang patut dicermati. Di sebuah perpustakaan Descartes di Perancis ditemukan sebuah karya Imam al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalâl.
   
Filsafat cogitu ergo sum atau “saya berfikir, maka saya ada” diduga mempunyai mempunyai kemiripin dengan ungkapan Imam al-Ghazali, Barang siapa tidak ragu, maka ia tidak akan berfikir. Dan barangsiapa tidak berfikir, maka ia tidak akan menemukan kebenaran. Zaqzuq memandang ada kecocokan antara cogitu ergo sum dengan filsafat yang dikembangkan oleh Imam al-Ghazali.
   
Meskipun objektivikasi dari filsafat keduanya berbeda, karena Descartes menggunakannya untuk mengantarkan eropa pada pencerahan dan ilmu pengetahuan. Sedangkan Imam al-Ghazali menggunakan filsafatnya untuk pencerahan batin.

Jadi, seorang ulama adalah seorang ilmuan. Ia mempunyai karya intelektual yang sangat berharga dan dapat menyumbangkannya bagi peradaban dunia. Imam al-Ghazali memberikan contoh terbaik bagi kita semua, bahwa ulama identik dengan seorang yang menomersatukan penyembahan kepada Tuhan. Tetapi, di samping itu, seorang ulama juga seorang ilmuan yang mampu memberikan inspirasi bagi kemajuan umatnya. Apa yang diyakininya sebagai sebuah keimanan absolut merupakan sumber bagi penemuan-penemuan dalam berbagai bidang keilmuan.

Peran Pesantren
Tuntutan mendesak yang harus dibuktikan pesantren di masa mendatang adalah mengembangkan kembali keilmuan dan peradaban Islam yang telah diwariskan oleh sejumlah ulama tersohor. Langkah itu penting agar pesantren dapat melahirkan ulama dalam arti yang sebenarnya.
   
Ulama yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap kemajuan umat dan bangsa. Ulama yang tidak mudah tertarik dengan godaan politik dan kapitalisme. Ulama yang sejatinya menghabiskan hidupnya untuk memajukan umat.
   
Dalam hal ini, pesantren harus memainkan peran yang optimal untuk menghidupkan kembali tradisi keulamaan di atas. Setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan: Pertama, reformasi kurikulum pesantren. Di era teknologi informasi yang makin canggih, mengakses buku-buku keislaman bukanlah hal yang sulit. Misalnya, sekarang sudah tersedia situs www.al-mostofa.com, yang menyediakan berbagai buku-buku berbahasa Arab, baik klasik maupun kontemporer. Buku-buku tersebut dapat dijadikan sebagai buku pegangan bagi para santri dan para murid. Ada ratusan ribu, bahkan jutaan khazanah keislaman yang tersedia, yang dapat dijadikan sebagai sumber utama untuk meningkatkan kualitas keulamaan di pesantren. 
   
Kedua, reformasi metode pengajaran. Selama ini pesantren hanya menggunakan metode monolog, satu arah. Di masa mendatang harus dikembangkan metode dialog, yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi santri dalam proses belajar-mengajar.
   
Ketiga, peningkatan fasilitas belajar-mengajar. Maksudnya, pihak pesantren harus memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para santri untuk senantiasa belajar. Dalam hal ini, pembelajaran bukan hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas.
   
Masalah klasik yang dihadapi pesantren dalam hal peningkatan kualitas keulamaan adalah konsentrasi pada kuantitas jumlah santri. Sedangkan konsentrasi pada kualitas pendidikan kerapkali dilupakan. Jika soal kualitas ini diperhatikan dengan baik, maka pesantren akan melahirkan kembali para ulama yang mempunyai kedalaman ilmu dan kejernihan hati.

Zuhairi Misrawi, Alumnus Al Azhar Mesir, Ketua Moderate Muslim Society.

 
< Prev   Next >

:: Agenda ::



PENGUMUMAN

*HASIL SELEKSI PBSB 2014


*Registrasi & Matrikulasi*
1. UIN Syarif Hidayatullah
2. ITS

3. UIN Sunan Kalijaga
4. UIN Sunan Guning Djati

5. UNAIR
6. UIN Sunan Ampel
7. IAIN Walisongo
8. Universitas Gadjah Mada
9. UIN Maliki


*==*
PENGUMUMAN HASIL
SELEKSI PBSB IPB
2014
*==*

&

HASIL SELEKSI
PROGRAM BEASISWA
TAHFIZ AL-QURAN
Tahap II
(PBTQ 2014)

Lihat & Download Folder
"Beasiswa Pesantren"

==()==

PENGUMUMAN

*HASIL SELEKSI PBSB 2014

*Registrasi & Matrikulasi*

1. UIN Syarif Hidayatullah
2. ITS

3. UIN Sunan Kalijaga
4. UIN Sunan Guning Djati

5. UNAIR
6. UIN Sunan Ampel
7. IAIN Walisongo
8. Universitas Gadjah Mada
9. UIN Maliki

*==*
PENGUMUMAN HASIL
SELEKSI PBSB IPB
2014
*==*

&

HASIL SELEKSI
PROGRAM BEASISWA
TAHFIZ AL-QURAN
Tahap II
(PBTQ 2014)


Lihat & Download Folder
"Beasiswa Pesantren"




ss
ss

:: Kajian Kitab Kuning ::


Image
Kitab at-Tauhid

Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.   

Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.

Read more...
 
 

© 2014 Pondok Pesantren