Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Dalam hampir semua catatan, baik yang ditulis oleh orang Islam sendiri maupun para Orientalis, Muhammad (570–632 M) adalah pribadi yang sangat menakjubkan. Meskipun ia lahir dari klan (Bani Hasyim) dan suku (Quraisy) yang menguasai atas pemeliharaan tempat suci, yakni ka’bah, tempat suku-suku di Arab melakukan aktivitas komersial, ekonomi, sosial, agama dan kulturalnya setiap tahun, namun ia tidaklah sombong.
Muhammad menjalani hidupnya secara sederhana, biasa-biasa saja, dan apa adanya seperti layaknya kehidupan para pekerja. Bahkan diceritakan, Muhammad juga pernah menjadi penggembala kambing dan sebagai seorang buruh dalam kabilah-kabilah dagang.
Ziaul Haque, seorang penulis kelahiran Pakistan (bukan mantan Presiden Pakistan) menuliskan, suasana masyarakat Makkah (tempat lahirnya Muhammad) pada saat itu sedang digerogoti oleh disparitas sosial dan ekonomi yang akut, kebusukan moral dan kebobrokan agama. Kekerasan menjadi hukum di mana suku-suku yang kuat menaklukkan dan memperbudak suku-suku yang lemah.
Masyarakat diperlakukan seperti halnya barang bergerak, mereka dieksploitasi karena dianggap sebagai harta milik para pemuka suku, bangsawan, agamawan, dan penguasa. Distribusi kekayaan negara yang tidak dikelola sebagaimana mestinya, yang hanya bisa dinikmati oleh orang dan kelompok tertentu, tidak saja menyuburkan jumlah penduduk miskin, tetapi juga menyimpan potensi konflik.
Namun semua itu berubah. Kedatangan Muhammadlah yang membawa angin perubahan itu. Semangatnya untuk merubah keadaan dengan cara-cara yang penuh penghormatan dan juga kasih sayang, dianggap sebagai salah satu kunci keberhasilan merubah tatanan masyarakat.
Perjuangan merubah keadaan itulah yang mesti kita tiru dari pribadi panutan umat di seluruh jagad ini. Kondisi bangsa yang dari hari ke hari tak kunjung membaik, seringkali memunculkan pertanyaan di benak kita, adakah ujung dari semua persoalan ini? akankah bangsa ini terus berada dalam kesulitan?, rakyatnya tetap miskin sementara elite-nya bergelimang dengan kemewahan? apakah bangsa ini tidak memiliki kemampuan untuk merubahnya?, hingga seluruh rakyatnya juga bisa ikut menikmati kekayaan alam negerinya?.
Tapi, apakah semua rakyat di negeri ini benar-benar menginginkan adanya perubahan? Bukankah kondisi bertolak belakang antara yang dialami oleh elite dengan masyarakat, adalah faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja? Jika pertanyaan ini diajukan pada masyarakat, pasti semuanya akan menjawab, penting untuk dilakukan perubahan bagi bangsa yang sudah berada diambang kehancuran ini. Tapi bagaimana jika pertanyaan ini diajukan pada elite, para pengelola kekuasaan, apakah ada yang menginginkan perubahan?
Bukankah duduk dalam lingkaran kekuasaan, kemudahan untuk menjarah uang negara, kebal hukum, hidup serba dilayani oleh mereka yang membayar gajinya, merupakan kenikmatan yang tidak semua orang mau melepasnya?. Jika apa yang sekarang mereka dapatkan lalu dirombak, bukankah perubahan sama artinya dengan akhir dari segalanya?, karena mereka lalu tidak bisa menjarah uang negara, tidak kebal hukum, dan yang lebih penting mereka harus mendistribusikan kekayaan negara dan melayani mereka yang menggajinya, yakni masyarakat.
Inilah persoalan yang mesti diselesaikan secepatnya. Selama masih ada kelompok yang tidak menginginkan perubahan bagi bangsa ini, maka selama itu pula negeri ini akan terpuruk, tertinggal, dan tidak memiliki harga diri di hadapan negara lain. Lalu pertanyaannya, dari mana kita akan memulai perubahan, andai semua menginginkan perubahan?
Harus terus diingat, prestasi terbesar Muhammad dalam misi kenabiannya bukan terletak pada keberhasilannya meluaskan wilayah dakwah Islam, tetapi lebih pada terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera. Dan itulah yang mesti kita lakukan. [ ]
|