:: Menu Utama ::

Home
Editorial
Berita
Kajian Kitab Kuning
Direktori Pesantren
Wacana
Wawancara
Tokoh Pesantren
Beasiswa Pesantren
Gallery
Redaksi
Links
Download

:: Editorial ::

Merayakan Kemerdekaan

Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi.

Read more...
 

:: Tokoh Pesantren ::

"Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran"

Image
K.H. Abdul Rozaq Shofawi

 Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.
 
Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.

Read more...
 
PDF Print
Kamis, 10 Februari 2011
Mendahulukan Kepentingan Bersama

Islam mengajarkan pemeluknya agar menjaga keseimbangan perilaku sosial dengan cara menjalani kebajikan (‘amilun as-shalikhah) untuk kepentingan masyarakat umum. Kita lihat sejarah Rasul seluruh potensi jiwa raga beliau curahkan untuk kepentingan pelayanan umat, bahkan saat detik menjelang beliau dipanggil yang Maha Kuasa, kalimat yang terus terucap dari bibir beliau adalah umati-umati (umatku-umatku). Keteladanan Rasul sebagai figur pengayom dan pembimbing umat ini selalu dilandaskan pada kepentingan bersama tanpa memandang ras, suku, agama.
Faktor keberhasilan Rasul membangun masyarakat jahiliyah arab menuju masyarkat berperadaban Islam, salah satunya karena ditentukan oleh sikap dan perilaku Rasul yang senantiasa mendahulukan kepentingan bersama dari pada kepentingan diri sendiri, kelompok maupun golongan. Hal ini terbukti saat beliau dipercaya masyarakat Makkah untuk meletakan Hajar Aswad yang terlepas dari tempatnya akibat banjir bandang agar dikembalikan ke tempat semula. Apa tindakan beliau atas kepercayaan tersebut?. Saat itu beliau letakan hajar aswad di atas sehelai kain dan beliau panggil perwakilan (tokoh) dari berbagai suku di Makkah agar memegang ujung kain yang diatasnya ada hajar aswad, atas komando Rasul diangkatlah dengan bersama-sama sehelai kain tersebut untuk diletakkan di tempat semula.

Tindakan Rasul di atas mengisyaratkan bahwa dalam rangka membangun tatanan masyarakat yang beraneka ragam (heterogen) suku, ras, dan agama dibutuhkan sikap dan perilaku sosial yang dilandaskan kemaslahatan dan kebaikan bersama sehingga menghilangkan kesenjangan diantara kelompok atau golongan di tengah masyarakat itu sendiri. Kaidah fiqhiyah menyebutkan,”Tasharaful imam manuthun bi maslakhati ar-Ra’iyah (perilaku kebijakan seorang pemimpin harus didasarkan atas kebaikan/kemaslahatan umat).

Konsepsi teks ini bisa dijadikan sumber nilai universal (toleransi, kepedulian sosial, kebersamaan serta kesetiakawanan) untuk mencapai cita-cita bersama dalam aspek bidang kehidupan sosial ekonomi, politik, budaya, dan agama) yang adil dan sejahtera.

Untuk mencapai cita-cita tersebut, Islam telah memberikan  instrumen ajaran (konstitusi syar’i) diantaranya adalah konsep zakat, infaq, shadaqoh, waqaf, serta qurban; ajaran konstitusional syar’i ini secara eksplisit menganjurkan umat agar memperhatikan kepentingan bersama (umat), memperhatikan hak ekonomi bagi masyarakat faqir-miskin. Untuk itu diperlukan pemberdayaan ekonomi melalui instrumen ajaran (konstitusi syar’i) dan tak terkecuali kepentingan yang lainnya (selain ekonomi). Perhatian Islam terhadap hak atau kepentingan bersama (umat) yang begitu serius dan kuat, karena Islam adalah satu tatanan nilai (world view) yang senantiasa menjunjung tinggi rasa kasih sayang (rahmatan lil ’alamin). Dan inilah tantangan yang harus segera kita jawab. Masih tetap mendahulukan kepentingan pribadi, atau masyarakat?. []


 
< Prev   Next >

:: Agenda ::



SELAMAT DATANG
di
www.pondokpesantren.net

"Media Pemberdayaan Pendidikan
Agama dan Keagamaan"

====()====
 
SELAMAT DATANG
di
www.pondokpesantren.net

"Media Pemberdayaan Pendidikan
Agama dan Keagamaan"






ss
ss

:: Kajian Kitab Kuning ::


Image
Kitab at-Tauhid

Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.   

Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.

Read more...
 
 

© 2014 Pondok Pesantren