:: Menu Utama ::

Home
Editorial
Berita
Kajian Kitab Kuning
Direktori Pesantren
Wacana
Wawancara
Tokoh Pesantren
Beasiswa Pesantren
Gallery
Redaksi
Links
Download

:: Editorial ::

Merayakan Kemerdekaan

Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi.

Read more...
 

:: Tokoh Pesantren ::

"Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran"

Image
K.H. Abdul Rozaq Shofawi

 Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.
 
Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.

Read more...
 
PDF Print
Jumat, 25 Maret 2011

Menghindari Agama Kebencian

Jonathan Swift, pastor yang semula sangat yakin, akhirnya tak dapat menahan kegelisahan batinnya: kita mempunyai cukup agama hanya untuk membuat kita saling membenci, namun tidak membuat kita saling mencitai. Mengapa?

Kegelisahan yang paradoksal ini bukan hanya monopoli Jonathan. Tujuh abad yang lalu, umat Muhammad dari Timur dan umat Kristiani dari Barat telah berlumur darah selama kurang lebih 200 tahun dengan atas nama agama masing-masing. Umat Muhammad-umat Kritsiani dan Yahudi di kawasan sebelah timur Laut Tengah, sesama umat Muhammad di sekitar teluk Persia, antar umat pemeluk agama lain lagi di sekiar anak benua India, adalah pertunjukkan sejarah yang bisa dipahami sebagai telah memperkuat kegelisahan tadi.

Dan apakah teori SARA yang begitu paten di negeri ini tidak berangkat dari kegelisahan yang sama? SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) adalah empat perkara yang, demikianlah kita selama ini berkesimpulan, menjadi biang keladi dari segala kemungkinan kerusuhan sosial. Seperti halnya Jonathan, kita pun suka menyebut diri sebagai masyarakat religious telah sepakat menempatkan agama sebagai pihak yang ‘tertuduh’ bersama sentimen-sentimen picik lainnya.

Tidak sederhana menerangkan kenyataan yang tidak logis ini. Bagaimana mungkin ajaran suci menganjurkan penumpahan darah dan fitnah terhadap orang lain hanya lantaran beda keyakinan, atau bahkan sekedar beda bahasa dalam mengungkapkan keyakinan. Agama sebagaimana terungkap dalam wahyu dengan agama sebagaimana dipahami masing-masing dari wahyu, sesungguhnya dua hal yang berbeda. Yang pertama sebagai pengungkapan dari yang mutlak, dengan sendirinya berkapasitas mutlak, sedang yang kedua sebagai pengungkapan dari yang nisbi, juga dengan sendirinya bersifat nisbi.

Agama sebagai pemahaman adalah agama yang lahir dalam subyektivitas pihak yang memahami. Subyektivitas itu bisa jadi adalah kedudukannya sebagai penguasa yang diktator, rakyat yang tertindas, pimpinan jemaat, pimpinan partai, pimpinan golongan atau ormas, sebagai orang yang tengah mereguk nikmatnya kekayaan atau yang tengah terhimpit dalam pedihnya kemiskinan. Jika subyektivitas itu demikian dominan, maka yang lahir adalah agama yang berfungsi sebagai ‘pembenar’ dari kecenderungan-kecenderungan pihak yang bersangkutan.

Kesadaran transendental, yang lahir dari keterbedaan belenggu subyektivitas, dengan demikian adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh pemahaman agama dan juga keberagamaan yang otentik, yang mampu memberikan gairah untuk memandang dan memperlakukan orang lain sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri: keberagamaan yang mampu melahirkan pandangan bahwa umat manusia adalah satu. Dan al-Qur`an, dengan apresiasinya yang begitu tinggi kepada segenap Rasul yang pernah diutus dan juga pengakuannya terhadap puluhan ribu nabi lain secara tulus tidaklah bisa diberi arti kecuali hendak merangsang pandangan kemanusian yang transendental itu. Atau, klaim universalitasnya akan tetap kita pasung untuk menjadi sekedar mitos? Agama yang dipersucikan setelah dipahami senafas dengan fitah dan kebencain; dosa siapakah ini, sanpai kapan ini? [ ]
 
< Prev   Next >

:: Agenda ::



SELAMAT DATANG
di
www.pondokpesantren.net

"Media Pemberdayaan Pendidikan
Agama dan Keagamaan"

====()====
 
SELAMAT DATANG
di
www.pondokpesantren.net

"Media Pemberdayaan Pendidikan
Agama dan Keagamaan"






ss
ss

:: Kajian Kitab Kuning ::


Image
Kitab at-Tauhid

Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.   

Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.

Read more...
 
 

© 2014 Pondok Pesantren