:: Editorial ::
Merayakan Kemerdekaan
Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi. |
|
Read more...
|
:: Tokoh Pesantren ::
|
"Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran"  K.H. Abdul Rozaq Shofawi
Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.
Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.
|
|
Read more...
|
|
|
| |
|
Wacana
|
Santri, Rihlah, dan Barat |
|
|
|
Rabu, 09 Februari 2011 |
Oleh : Sumanto Al Qurtuby
 Tulisan singkat ini ingin membahas tigal hal: santri, tradisi rihlah atau travelling untuk menuntut ilmu, dan Barat. Kata “Barat” ini mengacu pada kawasan Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada), Eropa Barat, dan Australia. Fenomena para santri yang notabene atau diidentikkan dengan kultur tradisional, kampungan, udik, kolot, anti-modernitas, tidak ilmiah, dan berbagai label pejoratif lain, tiba-tiba belajar di negara-negara Barat yang didominasi Kristen dan bukan Timur Tengah yang sudah lama menjadi “sacred geography” bagi para santri dari “Jawi” -sebuah istilah yang tidak hanya mengacu pada kawasan Jawa saja tapi juga Indonesia dan Melayu secara umum- tentu saja menjadi isu yang menarik untuk dikaji dari sudut keilmuan. |
|
Read more...
|
|
|
Sastra Pesantren: Menanggung Beban Berat |
|
|
|
Rabu, 12 Januari 2011 |
Oleh : Kodirun
"Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat"
(QS. al-Syu’ara: 224)
Sebuah Ingatan
 Sekitar tahun 1997 seorang teman dekat saya di masjid milik pesantren tempat kami bersama-sama menuntut ilmu ( thalab al-‘ilmi), membaca fenomena menarik. Seringkali sebelum ia merebahkan badan sambil membersihkan kertas-kertas yang berceceran, iseng-iseng ia baca sampah kertas itu yang berisi coretan-coretan kata mirip puisi, yang diksi, komposisi, dan muatan temanya dirasakannya tidak kalah dengan puisi-puisi “mapan”. Saat itu pula teman saya tadi sadar bahwa ternyata santri mempunyai potensi yang tidak kecil dalam bidang sastra. |
|
Read more...
|
|
|
Pesantren, Terorisme, dan Langkah Penyelamatan |
|
|
|
Jumat, 31 Juli 2009 |
Oleh: Abd. Moqsith Ghazali  Terorisme tak beranjak dari negeri ini. Jumat 17 Juli 2009 lalu bom diledakkan di Mega Kuningan Jakarta, membantai sembilan jiwa dan melukai puluhan orang. Kita semua marah dan geram. Sesaat setelah itu, banyak aktivis HAM, tokoh agama dan politik mengecam kebuasan pelaku pemboman. Karangan bunga duka cita diletakkan, simbol belasungkawa bagi korban. Pengurus NU dan Muhammadiyah menyesalkan dan lantang menyuarakan kutukan atas pemboman itu. Tapi, mereka mewanti-wanti agar pemboman itu tak dikaitkan dengan Islam termasuk pesantren. Menurut mereka, Islam pesantren tak menganjurkan terorisme. Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, kata mereka. |
|
Read more...
|
|
|
Membaca Peristiwa Isra Mi’raj |
|
|
|
Senin, 20 Juli 2009 |
Oleh: Hamzah Sahal
 Tanggal 27 Rajab, yang bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2009, hari yang sangat penting dan bersejarah bagi umat Islam. Pada tanggal itu, Rasulullah SAW menjalani sebuah ritus spiritual yang biasa disebut dengan istilah Isra Mi’raj. Isra Mi’araj adalah peristiwa “animasi”, jauh dari jangkauan akal budi manusia. Ibnu Sa’id dalan kitab Thobaqatul Qubra, meriwayatkan bahwa peristiwa tersebut terjadi di bulan Rajab, delapan belas bulan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Dengan demikian, sampai saat ini, peristiwa Isra Mi’raj telah berusia 1430 tahun lebih. |
|
Read more...
|
|
|
Pramuka Santri dan Semangat Kebangsaan |
|
|
|
Minggu, 14 Juni 2009 |
Oleh : Ruchman Basori
 Mulai tanggal 15 sampai 20 Juni 2009, Direktorat Pendidkan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama akan menggelar Perkemahan Pramuka Santri Nusantara ke-2, yang diikuti oleh pramuka santri dari Gugus Depan yang berpangkalan di Pondok Pesantren se-Indonesia. Lebih dari 6000 pramuka santri penegak dan 5.000 pramuka penggembira diperkirakan akan memadati Bumi Perkemahan Letjen (Purn) DR. (HC) Mashudi Jatinangor Sumedang Jawa Barat. |
|
Read more...
|
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
| | Results 10 - 18 of 43 |
|
|
|
:: Agenda ::
|
|
:: Kajian Kitab Kuning ::
 Kitab at-Tauhid
Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.
Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.
|
|
Read more...
|
|