:: Editorial ::
Merayakan Kemerdekaan
Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi. |
|
Read more...
|
:: Tokoh Pesantren ::
|
"Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran"  K.H. Abdul Rozaq Shofawi
Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.
Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.
|
|
Read more...
|
|
|
| |
|
Wacana
|
Kemenangan |
|
|
|
Kamis, 16 Agustus 2012 |
Abdul Mukti Ro’uf *
Di Indonesia, juga di negara lain, urusan agama dan budaya, agama dan politik, agama dan seni sering terlihat berjalan bersamar, bercampur, membaur. Antara yan teologis dan yang antropologis sebaiknya dikompromikan untuk mencari kearifan religuisitas. Sebab agama, jika didefinisikan sebagai sesuatu yang datang dari Tuhan, tidak datang di ruang hampa. Karena itu, pembaharuan agama dan budaya sebagai keniscayaan yang tak terbantahkan. Gunanya agar keberagamaan kita tetap ada dalam dimensi keilahiyaan yang membumi. Meski demikian, tidak jarang muncul tuduhan bidah untuk urusan percampuran ini. Fenomena idul fitri di Indonesia dapat dijadikan potret pembaruan antara yang religi dan budaya. Karenanya, nuansa kebudayaan dalam ber-idul fitri khas Indonesia menjadi fenomena yang unik. Visi spiritual ibadah puasa yang dipamungkasi dengan shalat ‘Ied tidak bisa berjalan semata-mata sebagai kegiatan keagamaan, tetapi ikut dengannya perayaan kebudayaan sebagai ekspresi manusia Indonesia.
|
|
Read more...
|
|
|
Menanti Lailatul Qadar |
|
|
|
Selasa, 07 Agustus 2012 |
Oleh : Fathuri SR*
 Sebuah pemandangan yang jamak kita saksikan saat Ramadhan adalah spanduk ucapan selamat terpasang di mana-mana. “Selamat Menjalankan Ibadah Puasa,” itulah kalimatnya hingga kita hapal di luar kepala. Sebelum Ramadhan tiba, Sms ucapan selamat berpuasa juga diterima lebih dari sekali, ada dari teman, saudara, dan keluarga. Tak ketinggalan media cetak, online, radio, maupun televisi juga memuat ucapan selamat itu. Acara dan rubrik khusus puasa digelar, memanjakan pembaca dan pemirsa saat berpuasa. |
|
Read more...
|
|
|
Dialektika Hisab Rukyah |
|
|
|
Sabtu, 21 Juli 2012 |
Oleh ; Maryani Abdul Muiz *
 Persoalan penentuan awal bulan di Indonesia, khususnya dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah, selalu menjadi tranding topic. Uniknya, persoalan seperti ini hanya terjadi di negara dengan system demokrasi seperti Indonesia. Dimana hak-hak adami khususnya terkait persoalan keagamaan menjadi hal yang begitu sakral untuk di intervensi. Secara garis besar, persolanan ini tidak terlepas dari persoalan Hisab Rukyah yang berkembang di Indonesia. Sebagai bukti, hal ini dapat kita amati beberapa tahun terakhir, perbedaan begitu tampak terjadi antara ormas Islam satu dengan yang lain. Hal tersebut ditengarai karena belum adanya kesepakatan terhadap metode apa yang akan digunakan untuk penetapannya, apakah metode hisab atau metode rukyah. |
|
Read more...
|
|
|
Nishfu Sya’ban Dan Malam Pertanggungjawaban Amal |
|
|
|
Kamis, 28 Juni 2012 |
Oleh : Ahmad Fawaid*  Memperingati malam nishfu Sya’ban merupakan tradisi turun-temurun hingga saat ini. Tidak saja di Indonesia, menggiatkan malam nishfu Sya’ban dengan ritual khusus serta memperbanyak zikir dan doa juga dilakoni di beberapa Negara di Timur Tengah. Di Mesir misalnya, sebagaimana digambarkan Mahmud Syaltout dalam bukunya Min Tawjîhât al-Islâm (2004/383), diisi dengan melaksanakan shalat dua rakaat usai Shalat Magrib dan membaca surah Yâsîn tiga kali dengan niat panjang umur, tolak balak, dan rizki yang melimpah serta barakah. Ritual ini tidak berbeda dengan apa yang kita saksikan di tanah air. |
|
Read more...
|
|
|
Relasi Etis Kiai - Santri |
|
|
|
Rabu, 13 Juli 2011 |
|
Oleh: Syamsul Hadi Thubany
 Di kalangan masyarakat santri, figur kiai, secara umum kerap dipersepsikan masyarakat sebagai pribadi yang integratif dan merupakan cerminan tradisi keilmuan dan kepemimpinan, ‘alim, menguasai ilmu agama ( tafaqquh fi al-din) dan mengedepankan penampilan perilaku berbudi yang patut diteladani umatnya. Semakin tinggi tingkat kealiman dan rasa tawadlu’ kiai akan semakin tinggi pula derajat penghormatan yang diberikan santri dan masyarakat. |
|
Read more...
|
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
| | Results 1 - 9 of 43 |
|
|
|
:: Agenda ::
|
|
:: Kajian Kitab Kuning ::
 Kitab at-Tauhid
Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.
Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.
|
|
Read more...
|
|