:: Editorial ::
Merayakan Kemerdekaan
Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi. |
|
Read more...
|
:: Tokoh Pesantren ::
|
"Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran"  K.H. Abdul Rozaq Shofawi
Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.
Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.
|
|
Read more...
|
|
|
| |
|
Editorial
|
Kamis, 16 Agustus 2012 |
Merayakan Kemerdekaan
Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya hampir bersamaan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-67. Ada beberapa hal yang membuat perayaan idul fitri ini terasa istimewa. Pertama, pesan kemenangan. Jika kemerdekaan adalah puncak kemenangan dari sebuah perjuangan mengangkat senjata, maka idul fitri adalah puncak kemenangan setelah sebulan bertarung menaklukkan godaan-godaan duniawi. |
|
Read more...
|
|
|
Membumikan Puasa |
|
|
|
Selasa, 24 Juli 2012 |
|
Puasa pada bulan Ramadhan sesungguhnya adalah ibadah yang sifatnya teosentris (ketuhanan). Indikasinya jelas, hanya Allah saja yang mengetahui pahala orang yang berpuasa. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan: semua amal manusia adalah bagi manusia sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan hanya Aku yang dapat menilainya.
Lalu bagaimana caranya agar puasa ini memiliki efek samping (manfaat) bagi manusia lain? Bukankah puasa juga mengajarkan kepada manusia agar mengingat sesama? Bukankah puasa adalah sarana bagi manusia untuk berlatih menahan diri?. Bagaimana caranya agar orang yang berpuasa merasakan penderitaan orang-orang miskin?
|
|
Read more...
|
|
|
Jumat, 10 Juni 2011 |
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Dalam hampir semua catatan, baik yang ditulis oleh orang Islam sendiri maupun para Orientalis, Muhammad (570–632 M) adalah pribadi yang sangat menakjubkan. Meskipun ia lahir dari klan (Bani Hasyim) dan suku (Quraisy) yang menguasai atas pemeliharaan tempat suci, yakni ka’bah, tempat suku-suku di Arab melakukan aktivitas komersial, ekonomi, sosial, agama dan kulturalnya setiap tahun, namun ia tidaklah sombong.
|
|
Read more...
|
|
|
Senin, 02 Mei 2011 |
|
Menggagas Dakwah Progresif
Kritik orang belakangan ini bahwa mimbar masjid digunakan sebagai tempat ’menebar kebencian’ nampaknya ada benarnya. Masih ingatkah kita kasus ustadz (ustadz?) Yusnari Yosra, seorang khotib Jum’at di masjid DPRD DKI Jakarta yang dalam khutbahnya menghina Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), dan kemudian oleh jamaah jum’at dipaksa untuk menghentikan khutbahnya?
|
|
Read more...
|
|
|
Kamis, 21 April 2011 |
|
Kemaslahatan Adalah Keberpihakan
Agama diturunkan oleh Allah SWT untuk kemaslahatan, kepentingan dan kebahagiaan seluruh manusia. Segala aturan agama sepenuhnya untuk kebaikan manusia itu sendiri. Kebahagiaan yang bersifat lahir batin ini dicerminkan Islam dalam ajaran-ajarannya. Oleh karenanya Fikih yang menjadi acuan bagi umat Islam untuk mengatur kehidupan publik (fikih siyasah) harus juga mengacu kepadan kebaikan bersama dalam dunia publik yang lebih luas.
|
|
Read more...
|
|
| | << Start < Prev 1 2 3 Next > End >>
| | Results 1 - 9 of 26 |
|
|
|
:: Agenda ::
|
|
:: Kajian Kitab Kuning ::
 Kitab at-Tauhid
Dalam ranah Ilmu Kalam, al-Maturidi adalah nama yang sudah tidak asing lagi. Ia adalah pendiri aliran Maturidiyyah yang diketegorikan sebagai representasi teologi ahli sunnah, di samping Asy’ariyyah yang digawangi Abu al-Hasan al-Asy’ari. Al-Maturidi dikenal sebagai seorang teolog, dan faqih dari Madzhab Hanafi, bahkan seorang ahli tafsir.
Nama lengkap al-Maturidi adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, sebuah desa (qaryah) yang masuk ke dalam wilayah Samarqand. Ia acap kali dijuluki Imam al-Mutakallimin (Imam Para Teolog) dan masih banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan kelas intelektual dan jihadnya dalam membela sunnah, akidah, dan menghidupkan syari’at Islam.
|
|
Read more...
|
|